Perhatian: Situs ini sedang berada dalam proses pengembangan

Sensasi Sepasang Ratu Piringan Hitam

Jun 30th, 2008 • Category: Hiburan Malam

DUNIA seraya berputar lebih liar di Zone Cafe The Sexiest Athmosphere Baturraden, Kamis malam hingga dini hari lalu. Sebuah putaran yang digiring oleh hentakan, dentuman dan decitan piringan hitam yang menyuguhkan permainan Electric Barbellas. Dan poros dari semua putaran itu ada pada duo DJ yang patut dijuluki ”ratu piringan hitam”, DJ Milinka dan DJ Devina.

Kedatangan dua dara yang menjadi fenomena baru dalam panggung dunia hiburan malam itu merupakan penampilan perdana di Kota Purwokerto. Tak ayal, penggila musik dj di Purwokerto tidak menyia-nyiakan suguhan keduanya. Pada malam bertajuk ”The 1st Zone Anniversary The Final” itu, mereka menyemut di lantai dansa.


Teriakan histeris dan kamera ponsel mengabadikan permainan jemari lentik kedua DJ berdarah blasteran tersebut. Sementara Milinka dan Devina, disela-sela aksi panggungnya, hanya menyungging senyum sekilas. Menggoda sekaligus tetap berkelas.

Milinka lahir di Belanda dari pasangan berdarah Indonesia dan Yugoslovakia. Sementara Devina adalah anak pasangan Belanda dan Indonesia yang lahir di Sydney, Australia. Selama di Sydney inilah, Devina telah gemar mengkoleksi piringan hitam. Sementara Devina semula bagian dari penggemar berat dunia gemerlap (dugem). Keduanya bertemu di sebuah kelab malam kota Jakarta tahun 2005, bulan November tahun itu juga, keduanya menghebohkan rimba malam Indonesia dengan memperkenalkan Electric Barbarellas.

Keduanya fenomenal bukan saja karena minimnya DJ perempuan di Indonesia, tetapi juga keputusan untuk menyuguhkan permainan duo layaknya Mulan dan Maya Ahmad yang mengusung Ratu. Sebagai mantan model, Devina maupun Milinka juga mengusung peragaan busana dalam setiap penampilannya. Desainer Oscar Lawalata, satu dari sekian penyedia keperluan gaya mereka.

“Tidak ada perasaan yang bisa menandingi saat crowd di depan kami bersorak dan menari karena menyenangi musik yang kami mainkan,” tutur Devina.

Alasan itulah yang membuat penyandang gelar sarjana desain grafis dan diploma perhotelan itu lebih memilih menjadi DJ. Milinka yang memiliki gelar sarjana ekonomi dari Belanda pun meninggalkan pekerjaan sebagai pialang saham dan eksekutif perusahaan periklanan di Singapura demi sensasi petualangan di antara decit piringan hitam dan gemerlapnya lampu kelab-kelab malam di seantero Indonesia.

Dan begitulah, cerita bergulir. Mata cluber Purwokerto yang terbelalak menikmati sensasi musik Electric Barbarellas hanya menjadi satu kisah dari malam ke malam yang ditempuh keduanya. Ketika deduanya mengusaikan sentuhan terakhir dari belakang turn table, penggila Elektric Barbarellas mungkin hanya berharap, di satu malam yang lain akan bersua kembali. *