Penduduk,Agama, Bahasa
Penduduk
Seperti setiap daerah yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, Banyumas tidak hanya dihuni oleh warga asli suku Jawa Banyumasan. Berkonsentrasi di wilayah perkotaan, suku Tionghoa, suku Batak (Sumatera) dan sejumlah suku dari berbagai wilayah di Indonesia juga mulai menetap. Sikap dasar keterbukaan membuat kekayaan budaya dari luar Banyumas mudah diterima dan menjadi bagian dari keunikan lokal.
Agama
Populasi Banyumas hanya sebesar 1,6 juta jiwa, dimana setiap 100 perempuan terdapat 99 laki-laki. Sebesar 95 persen merupakan suku Jawa, baik penduduk asli (Jawa Banyumasan) maupun Jawa campuran dengan agama mayoritas Islam. Namun demikian, pemeluk agama minoritas seperti Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Chu hidup dalam harmoni. Sebagian warga masih menganut agama asli tanah Jawa, Kejawen yang terbagi dalam berbagai cabang aliran.
Tingkat kepadatan penduduk berkisar di angka 1.169/km pada tahun 2006 dengan rata-rata rumah tangga terdiri dari empat orang anggota keluarga.
Bahasa

Mayoritas warga di Banyumas masih menggunakan Bahasa Banyumasan. Budayawan dan ahli sejarah menganggap bahasa tersebut merupakan peninggalan paling murni bahasa Jawa Kuna atau Jawa Kawi. Bahasa Banyumasan tidak mengalami proses stratifikasi seperti halnya Jawa Kraton yang kini menjadi bahasa Jawa paling dominan. Bahasa Banyumasan lahir dan berkembang sebagai milik masyarakat akar rumput yang ekspresif, bebas, cenderung apa adanya (blakasuta) dan setara (egaliter) sebagai cerminan hidup keseharian warganya.
Bahasa Banyumasan memiliki banyak variasi lafal dan kosakata di lingkungan yang sangat lokal. Terdapat variasi ucapan dan kosakata dari satu kecamatan (distrik) ke kecamatan (distrik) lain. Para ahli berpendapat, keberagaman itu terjadi karena tidak ada satu kekuasaan dominan pun yang mengatur mana kata-kata yang ‘resmi’ dan mana yang ‘tidak resmi’. Keberagaman ini justru menjadi kekayaan di masa kini.
Secara umum masyarakat Banyumas menggunakan Bahasa Indonesia sebagai alat bantu komunikasi formal. Uniknya, terutama bagi warga dewasa yang masih tinggal di pedesaan , terdapat kelompok yang tidak fasih menggunakan bahasa yang berasal dari rumpun Melayu dan telah menjadi bahasa resmi negara itu.



