JAMASAN PUSAKA / TOSAN AJI

JAMASAN PUSAKA / TOSAN AJI

Jamasan jimat, merupakan Prosesi pencucian benda pusaka peninggalan bersejarah yang saat ini masih menjadi prosesi rutin yang diselenggarakan oleh masyarakat adat di dusun Kalibening desa Dawuhan kecamatan Banyumas serta Desa Kalisalak, kecamatan Kebasen.

Prosesi jamanasan benda-benda pusaka baik yang berlokasi di Kalibening ataupun Kalisalak memiliki perbedaan dan juga persamaan dalam tiap penyelenggaraannya. 

Adapun proses jamas benda pusaka di Kalibening merupakan pusaka peninggalan Mbah Kalibening yang dipercaya sebagai tokoh penyebar Islam diwilayah Banyumas. Prosesi ini biasanya dilakukan dengan penghitungan pusaka terlebih dahulu yang dilaksanakan pada malam hari dan kemudian pada keesokan harinya seluruh pusaka di yang disimpan didalam Pendapa Kalbening diarak oleh masyarakat adat untuk dijamas disumur Mbah Kalibening yang berada di atas bukit dusun tersebut. Adapun benda pusaka yang di jamas umumnya berupa Keris, Tombak, Batuan Mulia, Tasbih, Patung Naga, Mata Uang Kuno dan benda pusaka lainya.

Sedangkan di Kalisalak, proses jamas benda pusaka adalah benda peninggalan Amangkurat 11 (Raja Mataram). Adapun benda-benda pusaka yang di jamas berupa keris, mata uang logam, surat-surat yang ditulis diatas daun lontar, dan Bekong/periuk.

Adapun kesamaan prosesi ini adalah ketika ada penambahan pusaka atau pengurangan dari jumlah yang ada pada taun sebelumnya selalu dijadikan pedoman ramalan untuk satu tahun kedepan. Misalnya di Kalisalak: Jika nampak Bekong yang ketika dijamas ternyata dalam kondisi basah/berkeringat berarti akan terjadi kesuburan atau akan terjadi panen raya.

Sebaliknya, apabila Bekong itu kering di artikan akan terjadi kemarau panjang atau paceklik. Penjamasan jimat/pusaka ini baik di Kalibening, desa Dawuhan dan Kalisalak pada pelaksanaannya dilakukan pada tanggal yang sama yaitu 12 Rabiul Awal tahun Hijriah atau pada peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW.