Cowongan adalah bentuk ritual jaman dahulu untuk mengundang hujan, yang dilakukan masyarakat Banyumas terutama para petani yang mengalami kemarau panjang.

Namun sekarang cowongan diangkat sebagai seni pertunjukan dan sebagai pralambang hidup manusia, dimana begitu sulit membedakan antara manusia dengan iblis atau belis (setan). Pada jaman dahulu cowongan dilaksanakan hanya pada saat terjadi kemarau panjang. Biasanya ritual ini dilaksanakan mulai pada akhir masa kapat (hitungan masa pada kalender Jawa).

Dalam pelaksanaannya cowongan dilakukan pada hitungan ganjil misalnya 1 kali, 3 kali, 5 kali atau 7 kali, Apabila sekali dilaksanakan cowongan belum turun hujan maka dilaksanakan 3 kali demikian seterusnya hingga turun hujan.